Mengenal Konjungsi Dalam Bahasa Belanda

Mengenal Konjungsi Dalam Bahasa Belanda

Biar kutebak, saat kamu menulis kalimat tunggal dalam bahasa Belanda, pasti terasa mudah? Sedangkan saat menulis kalimat yang menggabungkan dua ide kompleks, terasa sulit dan menantang. Tenang, itu adalah hal yang wajar bagi pembelajar pemula.

Biasanya, kesalahan paling umum yang pembelajar lakukan adalah mempertahankan urutan kata normal saat menggunakan kata penghubung tertentu. Hal ini justru membuat kalimat menjadi terdengar janggal dan sulit dipahami oleh penutur asli.

Nah, di artikel ini, kita akan membahas penggunaan konjungsi agar tulisan bahasa Belanda mu jauh lebih baik. Yuk, baca sampai habis! 😀

Konjungsi Koordinatif

Konjungsi Koordinatif

Kelompok pertama yang wajib kamu kuasai adalah konjungsi koordinatif atau Nevenschikkende Voegwoorden. Kata-kata konjungsi dalam kelompok ini adalah “en” (dan), “maar” (tetapi), “want” (karena), dan “of” (atau). Kelompok ini sederhana dalam struktur gramatikal. Mereka menggabungkan kalimat utama tanpa mengubah urutan kata di kalimat kedua sama sekali. Kamu cukup meletakkan kata konjungsi di antara dua pernyataan mandiri.

Contoh, “Ik werk herd en ik leer veel” (Aku bekerja keras dan aku belajar banyak). Di sini, bisa kamu lihat bahwa setelah kata “en”, urutan kalimat kedua tetap mengikuti pola subjek lalu kata kerja.

Contoh kedua, “Ik ben moe, maar ik ga studeren” (Aku capek, tapi aku akan belajar).

Nah, gampang, kan? :D. Struktur ini sangat aman bagi pemula karena tidak memerlukan pemikiran ekstra tentang pembalikan posisi.

Konjungsi Subordatif

Konjungsi Subordatif

Kelompok kedua adalah konjungsi subordatif atau onderschikkende voegwoorden. Ini jauh lebih menantang dari yang sebelumnya. Kata-kata konjungsi yang termasuk dalam kategori kelompok ini adala, “omdat” (karena), “als” (jika), dan “hoewel” (meskipun).

Kelompok ini menciptakan anak kalimat atau bijzin. Aturannya, semua kata kerja harus “dilempar” ke posisi paling akhir dalam kalimat tersebut.

Yuk, kita bandingkan penggunaan kata “want” yang sudah kita bahas sebelumnya dengan “omdat”. Jika kamu menggunakan “omdat”, kalimatnya akan menjadi seperti ini ; “Ik blijf thuis omdat ik ziek ben” (Aku tetap di rumah karena aku sakit). Perhatikan bagaimana kata kerja “ben” berpindah yang seharusnya di posisi kedua, sekarang pindah di posisi paling akhir.

Contoh lain, “Als het regent, blijf ik binnen” (Jika hujan turun, aku akan tetap di dalam).

Perubahan drastis ini seringkali menjadi tantangan bagi para pembelajar yang sudah terbiasa dengan pola bahasa Inggris.

Konjungsi Transisional

Konjungsi Transisional

Selanjutnya, ada konjungsi transisional yang berfungsi sebagai keterangan namun sering dianggap konjungsi. Kata-kata seperti, “daarom” (Oleh karena itu), “toch” (Namun demikian) menimbulkan aturan inversi atau pembalikan. Jika kamu memulai kalimat kedua dengan kata-kata ini, maka kata kerja harus mendahului subjeknya.

Contoh, “Het regent, daarom neem ik een paraplu” (Hari sedang hujan, oleh karena itu aku membawa payung). Di sini bisa dilihat bahwa kata kerja “neem” mendahului subjek “ik”.

Kesimpulan

Memang, memahami perbedaan antara ketiga kelompok ini membutuhkan waktu dan banyak latihan. Strategi terbaik adalah dengan mengelompokkan kata penghubung berdasarkan dampaknya terhadap posisi kata kerja di catatanmu. Intinya, jangan hanya mengahafalkan artinya, tapi sambil menghafalkan “efek” yang ditimbulkan pada susunan kalimat tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *