Banyak pembelajar bahasa Belanda terjebak dalam menggunakan kata “voor” dalam menyatakan tujuan. Ini karena mereka terbiasa dengan pengaruh terjemahan bahasa Inggris atau Indonesia. Namun, bahasa Belanda memiliki struktur yang lebih spesifik untuk menjelaskan alasan sebuah tindakan. Struktur tersebut yakni penggunaan kata “om” yang dipadukan dengan“te” dan kata kerja dasar.
Dengan memahami struktur ini, kamu tidak lagi bergantung pada kosakata terbatas untuk menjelaskan tujuan ke lawan bicara. Artikel ini akan membahas bagaimana cara menyusun kalimat tujuan dengan benar dan efektif.
Penempatan Struktur Om…te

Struktur “om…te” digunakan ketika kamu ingin menjelaskan alasan dari aktivitas yang ingin kamu lakukan. Dalam pola ini, kata “om” kita letakkan setelah kalimat utama sebagai pembuka klausa tujuan. Lalu, kamu bisa memasukkan objek atau keterangan tambahan di tengah kalimat tersebut. Kata “te” akan selalu muncul sebelum kata kerja dasar yang kita letakkan paling akhir.
Nah, sudah mengerti, kan? alih-alih kamu mengatakan, “Ik ben hier voor leren” (Aku di sini untuk belajar). Penutur asli akan menggunakan struktur yang tepat. Kalimat yang tepat adalah, “Ik ben hier om Nederlands te leren” (Aku di sini untuk belajar bahasa Belanda).
Perbedaan Penggunaan “Om” dengan Kata Depan “Voor”

Kesalahan pembelajar menggunakan kata “voor” adalah karena mereka menganggap bahwa itu sebagai satu-satunya padanan kata “untuk”. Padahal, dalam bahasa Belanda, “voor” umumnya diikuti oleh kata benda, bukan kata kerja dasar. Jika kamu ingin merujuk pada seseorang atau benda, maka penggunaan “voor” sudah benar.
Contoh, “Dit cedau is voor jou” (Kado ini untukmu). Namun, jika setelah kata “untuk” terdapat sebuah aktivitas, kamu harus beralih ke struktur “om…te”. Contoh, “Ik ga naar de stad om kleren te kopen” (Aku pergi ke kota untuk membeli pakaian). Di sini, tujuannya adalah “membeli” maka struktur “om…te” harus digunakan secara utuh.
Variasi Penggunaan Tanpa Kata “Om”

Dalam beberapa kalimat, kata “om” bersifat opsional atau sering dihilangkan oleh penutur asli untuk mempersingkat ucapan. Terutama setelah kata kerja seperti “proberen” (mencoba) atau “helpen” (membantu). Meskipun kata “om” hilang, tujuan kalimat tetap tersampaikan dengan jelas.
Contoh penggunaan tanpa kata “om”, “Ik probeer Nederlands te leren” (Saya mencoba belajar bahasa Belanda).
Penting untuk diingat bahwa jika kamu menggunakan kata kerja bantu modal seperti, “kunnen”, “willen”, atau “moeten”, maka kamu tidak boleh menggunakan kata “te”. Di sini, kata kerja langsung kita letakkan di akhir dalam bentuk dasar.
Contoh penggunaan tanpa kata “te”, “Ik wil Nederlands leren” (Aku ingin belajar bahasa Belanda).
Nah, ini adalah bagian paling unik, di mana jika kata kerja tujuannya adalah kata kerja yang bisa terbelah, seperti “schoonmaken” (membersihkan), maka kata “te” harus kita sisipkan di tengah-tengah antara awalan (prefix) dan kata kerja utamanya.
Contoh, “Het is tijd om men kamer schoon te maken” (Ini waktunya aku membersihkan kamarku). Contoh lainnya, yaitu “opbellen” (menelpon) – “Om op te bellen”.
Kesimpulan
Nah, bagaimana, paham, kan? Struktur “om…te” ini akan memudahkanmu dalam membedakan kapan harus menggunakan kata depan sederhana, dan kapan harus menggunakan struktur tujuan. Semakin sering kamu mempraktikkan pola ini, semaki cepat pula otakmu akan meninggalkan kebiasaan menerjemahkan kata demi kata secara harfiah.

