Tahukah kamu bahwa dalam bahasa Belanda teradapat fenomena unik di mana beberapa kata ganti orang punya 2 bentuk berbeda. Ada bentuk benadrukt (kuat) dan bentuk onbenadrukt (lemah). Kata ‘Jij’ dan ‘Zij’ adalah bentuk kuat yang ditekankan. sedangkan ‘Je’ dan ‘Ze’ adalah bentuk yang tak ditekankan alias versi lemahnya. Perbedaan ini kita gunakan untuk membedakan di mana kamu ingin meletakkan pusat perhatian dalam sebuah kalimat.
Bentuk lemah adalah bentuk yang paling sering orang-orang gunakan dalam percakapan sehari hari. Karena penutur asli Belanda cenderung ingin berbicara secara efisien dan cepat. Sebaliknya, bentuk kuat adalah bentuk yang kita gunakan ketika kamu ingin membedakan seseorang dari orang lain atau ketika subjek tersebut menjadi poin utama pembicaraan.
Apakah kamu adalah pejuang belajar bahasa Belanda? Yuk simak artikel ini biar nambah ilmu!
Kapan Harus Diberi Penekanan?

Kata ‘Je’ adalah bentuk yang sangat umum dan bisa kita gunakan dalam situasi informal. Namun, kamu harus menggunakan ‘Jij’ jika kamu ingin menunjuk seseorang secara spesifik untuk membandingkannya dengan orang lain.
Contoh, coba kamu bayangkan kamu sedang berada di kafe dan ingin bertanya siapa yang mau minum kopi. Jika kamu betanya secara umum, kamu cukup berkata “Drinkt je koffie?” (Apakah kamu minum kopi?)
Namun, jika kamu ingin menekankan bahwa kamu bertanya kepada orang tersebut dan bukan orang yang disebelahnya, kamu berkata“Drinkt jij koffie?” (Apakah kamu yang minum kopi?).
Contoh lain dalam kalimat pebandingan seperti, “Ik ben groter dan jij” (Aku lebih tinggi dari kamu). Dalam konteks perbandingan, kamu harus menggunakan “jij” karna ada kontras antara “kamu” dan “aku”. Menggunakan kata“je” akan terdengar aneh dan janggal bagi penutur asli Belanda, karena “je” tak memiliki bobot emosional atau penekanan untuk sebuah perbandingan.
Bagaimana? mudah, bukan? 😀
Ze dan Zij, Menentukan Subjek Jamak dan Feminim

Sama seperti kata ganti orang kedua, “Ze” dan “Zij” kita gunakan untuk merujuk pada “dia” (Perempuan) atau “mereka” (jamak). Aturannya tetaplah sama, “Zij” adalah bentuk kuat, sedangkan “Ze” adalah bentuk lemah.
Dalam percakapan sehari-hari, “Ze” mendominasi percakapan. Misalnya kamu membicarakan teman-teman yang sedang pergi ke pasar, kamu bisa berkata “Ze gaan naar de markt” (Mereka pergi ke pasar).
Namun, jika kamu ingin menegaskan objeknya, misal karna ada kelompok lain yang tidak pergi ke pasar, kamu harus menggunakan “Zij gaan naar de markt, wij blijven hier” (Mereka pergi ke pasar, kita tetap di sini).
Penting untuk kamu ingat bahwa dalam tulisan formal atau pada awal kalimat yang sangat serius, penutur asli lebih menyukai penggunaan “Zij” untuk menjaga estetika bahasa. Namun, dalam obrolan santai di jalan Amsterdam, kamu akan lebih sering mendengar orang berkata “Wat doen Ze?” (Apa yang mereka lakukan?) daripada menggunakan bentuk kuatnya.
Kesimpulan
Intinya, memahami perbedaan antara bentuk pendek dan panjang adalah proses untuk mencapai kefasihan. Inti dari aturan ini terletak pada niat komunikasimu. Apakah kamu hanya ingin menyampaikan informasi secara mengalir, atau ingin memberikan sorotan khusus pada objek yang kamu bicarakan.
Yuk, mulai dari sekarang mulai berlatih menulis beberapa kalimat perkenalan atau perbandingan sederhana menggunakan contoh-contoh di atas agar kamu terbiasa dengan pola penekanan ini.

